Laman

Selasa, 03 Januari 2012

Bahasa dan tingkatan sosial di masyarakat

Adanya tingkatan sosial di masyarakat dapat di lihat dari dua segi: pertama dari segi kebangsawanan, dan kedua, dari segi kedudukan sosial yang di tandai dengan tingkatan pendidikan dan keadaan perekonomian yang di miliki. Biasanya yang memiliki pendidikan lebih baik memperoleh kemungkinan untuk memperoleh taraf perekonomian yang lebih baik pula. Tetepi ini tidak mutlak. Bisa saja taraf pendidikan yang baik namun taraf perekonomiannya kurang baik. Dan sebaliknya, yang memiliki taraf pendidikannya kurang tapi memiliki taraf perekonomian yang baik.
Kuntjaraningrat (1967:245) membagi masyarakat jawa menjadi 4 tingkatan, yaitu: 1. Wong cilik, 2. Wong sudgar, 3 priyayi dan 4. ndara. Sedangkan Clifford Geertz membagi masyarakat jawa menjadi 3 tingkatan yaitu: 1. Priyayi, 2. Orang yang berpendidikan dan bertempat tinggal di kota dan 3. Petani dan orang kota yang tidak berpendidikan. Dari kedua jenis penggolongan di atas jelas adanya perbedaan tingkatan dalam masyarakat tutur bahasa jawa. Berdasarkan tingkatan itu, maka dalam masyarakat jawa terdapat berbagai variasi bahasa yang di gunakan sesuai dengan tingkat sosialnya. Jadi, bahasa atau ragam bahasa yang di gunakan di kalangan wong cilik tidak sama dengan wong sudagar dan status di atas mereka.

Perbedaan variasi bahasa dapat juga terjadi apabila yang terlibat dalam pertuturan itu mempunyai tingkat sosial yang berbeda. Misalnya jika wong cilik berbicara dengan priyayi atau ndara maka masing-masing menggunakan variasi bahasa yang berbeda, pihak yang memiliki tingkat sosial yang rendah akan menggunakan variasi bahasa yang lebih tinggi atau dalam bahasa jawa di sebut bahasa karma inggil ketika berbicara dengan yang memiliki tingkat sosial yang lebih tinggi, sebaliknya apabila orang yang memiliki tingkatan sosial yang lebih tinggi bebicara dengan yang tingkatan sosoialnya lebih rendah maka variasi bahasa yang di gunakan adalah variasi bahasa yang lebih rendah atau bahasa ngoko.
Variasi bahasa yang penggunaanya berdasarkan pada tingkatan-tingkatan sosial ini di kenal dalam bahasa jawa dengan istilah undak usuk. Adanya tingkat-tingkat bahasa yang di sebut undak usuk ini menyebabkan penutur dari masyarakat jawa tersebut untuk mengetahui lebih dahulu kedudukan tingkat sosial terhadap lawan bicaranya. Adakalanya mudah, tetapi sering kali tidak mudah. Lebih-lebih lagi kalau terjadi si penutur lebih tinggi kedudukan sosialnya tetapi usianya lebih muda. Atau sebaliknya, kedudukan sosialnya lebih rendah tetapi lebih tua dari lawan bicaranya. Kesulitan ini ditambah pula dengan semacam kode etik, bahwa seorang penutur tidak boleh menyebut dirinya dengan tingkat bahasa yang lebih tinggi. Dengan demikian, dapat di lihat betapa rumitnya pemilihan variasi bahasa untuk berbicara dalam bahasa jawa.
Uhlenbeck(1970) membagi variasi bahasa menjadi tiga yaitu krama, madya dan ngoko. Lalu masing-masing di perinci lagi menjadi muda krama, kramantara, dan wredakrama madya ngoko madyantara dan madya krama; ngoko sopan dan ngoko andhap. Sedangkan Clifford geertz(1976:168) membagi dua bagian pokok yaitu krama dan ngoko lalu krama di perinci menjadi krama inggil, krama biasa dan krama madya, sedangkan ngoko di perinci manjadi ngoko madya, ngoko biasa dan ngoko sae. Untuk lebih jelas lihat contoh yang di angkat dari suwito(1983), pada contoh berikut dapat dilihat adanya variasi bahasa krama dan ngoko dilihat dari sipenanya, kalau si penanya mempunyai status sosial yang lebih rendah dari si penjawab maka biasanya di gunakan bentuk krama dan si penjawab menggunakan bentuk ngoko, kalau si penanya mempunyai status sosial yang lebih tinggi dari si penjawab, maka dia menggunakan bentuk ngoko sedangkan si penjawab menggunakan bentuk krama. Kalau penanya dan penjawab memiliki kedudukan yang sederajat, maka kalau si penanya menggunakan bentuk krama si penjawab juga memekai bentuk krama pula, dan apabila si penanya menggunakan bentuk ngoko maka si penjawab juga harus memakai bentuk ngoko.
Dari uraian di atas, jelas, yang di maksud dengan tingkat sosial masyarakat itu adalah status di mana seseorang mempunyai kedudukan dari segi pendidikan maupun dari segi ekonomi. Lalu bagaimanakah hubungan antara bahasa dengan tingkat sosial masyarakat?. Tingkatan sosial seseorang di masyarakat sangat mempengaruhi cara berbahasa dengan orang lain dan menjadi ukuran bagi lawan bicara agar menggunakan variasi bahasa dengan melihat status sosial seseorang di masyarakat. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar